Senin, 31/08/20
 
Camping di Desa Gema serasa di New Zealand

Ditma | Advertorial
Senin, 05/12/2022 - 21:05:20 WIB
Foto 1. Penulis bersama teman di area camping desa Gema Foto:2 naik perahu motor menyusuri sungai Subayang menuju air terjun Batu Dinding foto : (IAC)
TERKAIT:
   
 
PEKANBARU, Riaueksis.com-  membaca kata New Zealand kita akan terbayang hamparan padang rumput yang hijau dengan latar belakang pegunungan dan udaranya yang sejuk dan nyaman.

Hai ini akan anda temui di area camping desa Gema Kampar Kiri Hulu kabupaten Kampar.Bila anda ingin camping bersama teman-teman ataupun keluarga, Desa Gema adalah pilihan yang tepat

Desa indah ini  berada di pinggir sungai Subayang dan dipagari perbukitan yang menghijau.
Hamparan rumput yang hijau dan sangat  luas dengan udara yang sejuk,menjadikannya sebagai area yang sangat ideal untuk camping.

Saya bersama teman- teman sewaktu camping di desa Gema merasakan suasana yang sangat nyaman, kesibukan dan keriuhan kota sejenak terlupakan , di Desa Gema kita seperti menyatu dengan alamnya yang indah.

Untuk sampai di desa Gema ini juga cukup mudah hanya  di  tempuh 2,5 jam lewat perjalanan  darat naik mobil atau kendaraan roda dua dari Pekanbaru.
Menuju ke Desa Gema  kita melewati jalan aspal dan pedesaan di kampar kiri hulu.

Kami sampai di Desa Gema pukul 16.30. 00 Wib
sampai ditepi sungai Subayang ternyata kami harus menyebrangi sungai dangkal yang bisa dilewati mobil  untuk sanpai ke area camping di sebrang sungai.

Suasana alam peggunungan  langsung terasa karena area camping dikelilingi perbukitan  yang tinggi dan hijau, dikaki bukit menggalir sungai yang cukup luas dengan airnya yang jernih dan tenang sehingga kami tidak sabaran untuk segera mandi dan berenang di sungai  itu.

Setelah menurunkan perbekalan dari mobil dan memasang tenda, kamipun segera terjun kesungai  merasakan sejuknya air sungai dengan mandi dan berenang di sungai sepuasnya.

Setelah Sholat manghrib berjemaah kami pun makan malam bersama yang disediakan oleh ibu- ibu masyarat Desa Gema

Camping disini kita bisa memilih  bawa makanan sendiri atau pesan makanan kepada  masyarakat setempat dengan menu  tradisional khas desa  Gema

Setelah makan malam bersama, kamipun menikmati kopi panas dan ubi bakar, kami  mengelilingi api unggun, membakar jagung dan ubi serta bandrek yang kami bawa dari Pekanbaru segera dinikmati bersama.

Tidur dibawah tenda diatas hamparan rumput hijau  di pinggir sungai  yang mengalir tenang, gemericik air sungai membuat kita merasa di alam lain, membuat pagi harinya kami bangun dengan perasaan segar.

Pagi harinya kami melanjutkan perjalanan wisata menuju ke air terjun Batu Dinding  yang berada ditengah  Suaka Margasatwa Rimba Baling.


Mungkin gambar satu orang atau lebih, orang berdiri dan perairan


Desa Gema dan desa  Tanjung Belit merupakan desa yang berbatasan dengan kawasan konservasi Suaka Margasarwa (SM) Rimbang Baling,  untuk mencapai air terjun Batu Dinding bisa ditempuh lewat jalan darat dengan jalan yang cukup sulit dilalui karena harus mendaki bukit tapi untuk menghemat waktu bisa  juga menyewa perahu bermotor menyusuri sungai Subayang.

Air Terjun Batu Dinding mulai dikenal sebagai lokasi ekowisata sejak 2012. Masyarakat setempat dengan dukungan perangkat desa mengembangkan wisata air terjun itu yang memberikan dampak positif bagi ekonomi warga.

Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Baling atau yang kerap disebut Rimbang Baling, memiliki luas 136 ribu hektare berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Riau tahun 1982, dan pada KLHK telah menetapkan kawasan itu sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) dengan luas sekitar 142 ribu hektare pada 2016. Topografi hutan yang berbukit dan sungai yang mengalir jernih selama ini menjadi habitat alami bagi flora dan fauna terancam punah, salah satunya adalah harimau sumatera.

Dodi (40,) warga desa Tanjung Belit  yang juga ber profesi sebagai pemandu wisata mengatakan, pada libur Idul Fitri 14403 Hijriah, yang lalu ada lebih +1500 wisatawan Nusantara yang berkunjung ke air terjun Batu Dinding dalam tiga hari suasana hari raya 

Sebenarnya air terjun Batu Dinding  tersebut ada tujuh tingkat, namun yang biasa diakses pengunjung baru dua air terjun. Dua air terjun yang ada memiliki air yang jernih dan dikelilingi hutan yang lebat. Kawasan itu juga banyak terdapat binatang seperti monyet, beruk, kijang dan aneka burung.

Alhamdulillah saya dan teman- teman bisa mencapai air terjun Batu Dinding tingkat ke tiga, walaupun dengan perjuangan yang sangat berat karena harus mendaki bukit yang terjal dan jalan sempit dan  licin ditengah hutan.

Menurut Dodi, rata- rata pengunjung air terjun Batu Dinding hanya sampai di tingkat dua saja, dikarenakan beratnya medan yang harus dilalui.

Tapi setelah kita sampai di kolam air terjun tingkat ketiga, lelah kita mendaki bukit, terobati dengan indahnya pemandangan air terjun, dengan dasar  kolamnya berpasir putih, airnya  yang jernih, dan  sejuk, kamipun mandi sepuasnya 

Menurut  legenda masyarakat setempat tingkat yang paling tinggi dari air
Terjun batu dinding ini ada kisah mistis yang membuat orang jarang yang mampu bisa mencapai air terjun tingkat ke tujuh.

Tarif masuk ke tempat wisata itu Rp5.000 per orang, parkir Rp2.000 untuk motor dan Rp3.000 untuk mobil. Pemasukan tarif masuk sebesar 25 persen untuk kas daerah, 25 persen untuk warga yang bertugas mengelola, dan sisanya untuk pengembangan tempat wisata tersebut.

“Masih banyak yang bisa dikembangkan wisatanya, tapi kami masih ada kendala sa'at ini karena  belum adanya sarana seperti jalan, belum ada mushala, toilet, kurangnya tempat sampah, dan kurang sumber daya manusianya,” Dodi kepada Riaueksis.com.

Selain itu, ia mengatakan ada objek wisata baru yaitu pemandian Sungai Lalan yang kini banyak dikunjungi wisatawan. Lokasinya lebih dekat dari desa sehingga mudah diakses karena jalan sudah berupa semenisasi. Pemandian Sungai Lalan posisinya lebih tertutup dan dikelilingi pohon karet warga.

“Pemandian Sungai Lalan sekarang sedang dikunjungi banyak orang. Libur Lebaran dikunjungi sekitar 1.000 wisatawan,” tutur Dodi

Tarif masuk ke pemandian juga sama seperti ke air terjun Batu Dinding, yakni Rp5.000 per orang.

Menurut Dodi, masyarakat setempat di desa Gema dan Tanjung Belit mendukung kunjungan wisatawan ini karena sudah merasakan dampak positif dari pengembangan pariwisata terhadap ekonomi warga desa.

Wisatawan juga bisa menginap di Desa Gema karena sudah ada enam homestay tersedia, yakni Nurbaiti Homestay, Dua Putri 2, Putri 21, Nadia Homestay, Asma Laila, dan Putra 2 Homestay.

tarif menginap hanya Rp100 ribu per malam. Fasilitas yang disediakan berupa satu kamar yang bisa untuk empat orang. Untuk makanan tarifnya berbeda-beda tiap homestay, rata-rata Rp50 ribu per kepala untuk sekali makan. Dari pendapatan homestay, 10 persen untuk kas desa.

“Tapi untuk mahasiswa yang biasa datang berkelompok kami tidak mematok tarif yang sama, tergantung kemampuan mereka,” tutup Dodi.

Saya sudah menikmati keindahan desa  Gema  dan sejuknya air terjun Batu Dinding, bagaimana dengan anda? (len)


comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • PHR Hormati Keputusan DPRD Riau Menunda Hearing yang Dihadiri 5 Perwakilan Vendor
  • Ketum SMSI Firdaus Kawal Ekspedisi Danau Toba
  • Permudah Layanan Kependudukan Bupati Siak Lantik 10 Kepala UPTD Kependudukan Catatan Sipil
  • Turunkan Angka "Stunting", BKKBN Riau Berkolaborasi dengan PWI Riau
  • Melawan Petugas Satu dari Lima Pengedar 276 Sabu Jaringan Internasional Tewas di Dor Polisi
  • Pilkades Minta Di Tunda, Tokoh Masyarakat Bantan : Kami Butuh Pemimpin Difinitif
  • Polisi Tanggapi Heboh Video Penculikan di Kulim: Kejadiannya Bukan di Pekanbaru
  • Meriahkan HPN 2023 PWI Riau Gelar Turnamen Domino, untuk Pertama Kali Memakai Aturan Pordi
  • Mediasi Kelurahan Gagal, Ahli Waris H.Husin HDR Segera Tempuh Jalur Hukum
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved