PEKANBARU, Riaueksis. Com- Dunia pers mengalami dinamika yang cukup signifikan. Munculnya internet dan media sosial membuat pers arus Utama berada dalam tantangan yang cukup besar. Kondisi ini menjadikan pers arus Utama harus melakukan inovasi agar tak tergilas oleh berbagai tekanan dan tantangan tersebut untuk survive.
Kondisi seperti itu juga terjadi di Riau. Pertumbuhan media berbasis internet dan media sosial membuat pers arus Utama harus bekerja keras di tengah minimnya pendapatan iklan, advertorial, dan pendapatan tradisional. Secara kuantitatif banyak media tumbuh secara signifikan, namun secara kualitatif mereka kesulitan dalam menghasilkan konten yang kuat dan tekanan ekonomi.
Menghadapi kondisi tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau menyelenggarakan diskusi "Tantangan dan Masa Depan Pers Riau" yang akan diselenggarakan di Pekanbaru, Senin (15/9/2026). Diskusi ini merupakan rangkaian dengan pengumuman dan pemberian hadiah Lomba Karya Tulis Jurnalistik (LKTJ) Ali Kelana 2026 yang didukung penuh oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Dua pembicara yang akan menyampaikan gagasannya dalam diskusi ini adalah Erwin Ardian (Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru) dan akademisi dari FISIPOL Universitas Riau (Unri) Suyanto SSos MSc PhD. Mereka akan langsung dipandu oleh Ketua PWI Riau, H Raja Isyam Azwar.
"Kami sengaja menyelenggarakan diskusi ini bersamaan dengan pemberian hadiah anugerah LKTJ Ali Kelana PWI Riau yang merupakan lomba tahunan bagi wartawan anggota PWI Riau. Diskusi ini penting untuk membedah tantangan pers Riau ke depan termasuk kaitannya dengan kualitas karya jurnalistik yan dihasilkan," kata Raja Isyam didampingi Sekretaris PWI RIau N Doni Dwi Putra dan beberapa pengurus PWI Riau, Senin (14/9).
Dijelaskan Raja, dalam diskusi nanti akan dibedah secara komprehensif tentang masalah dan tantangan apa yang ada dan bagaimana mencari solusinya agar pers Riau, juga Indonesia secara umum, tetap hidup dan mengambil peran penting dalam masyarakat.
Sebab, gempuran media sosial yang sering menampilkan konten tanpa konfirmasi dan verifikasi, justru malah lebih dipercaya oleh masyarakat ketimbang kerja keras pers yang selama ini mengutamakan akurasi, konfirmasi dan verifikasi, juga kejujuran, justru banyak ditinggalkan pembaca karena dianggap ketinggalan zaman.
"Nah, diskusi nanti akan membahas hal itu. Benarkah masyarakat lebih percaya kerja serius pers atau hanya mencari konten viral yang dikerjakan tanpa berifikasi dan akurasi yang ketat?" tambah Raja Isyam.
Tentang LKTJ Ali Kelana, Raja Isyam menjelaskan bahwa lomba ini sudah dibuka sejak Juli hingga 15 Agustus 2026. LKTJ ini merupakan lomba tahunan yang diselenggarakan PWI Riau dan menjadi lomba jurnalistik bergengsi bagi anggota PWI Riau yang kini berjumlah lebih 1.000 anggota. Lomba ini juga mengukur sejauh mana kualitas para wartawan yang tergabung di PWI Riau di tengah arus gempuran media sosial.
"Dari LKTJ Ali Kelana inilah kami di PWI Riau melihat dan mengukur kualitas karya jurnalistik wartawan di Riau. Dari sini gambaran keseluruhan karya-karya jurnalistik itu bisa dilihat dan dinilai," jelas Raja lagi.
Tahun ini, LKTJ Ali Kelana menyediakan total hadiah Rp10 juta. Untuk pemenang utama akan mendapatkan trofi bergilir dan hadiah uang Rp7.500.000 dan lima nominanor mendapatkan masing-masing Rp500.000. Tiga juri yang menilai dan memilih karya terbaik adalah Raja Isyam Azwar, Hary B Koriun, dan Muhammad Amin.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang menyeponsori penuh rangkaian kegiatan ini. Semoga sinergitas yang saling menguntungkan ini akan terus terbina," tambah Raja Isyam.***