Senin, 31/08/20
 
Kawan dari Sarang Lawan

M Amin | Religi
Jumat, 05/01/2018 - 05:08:38 WIB
ilustrasi
TERKAIT:
   
 
Pekanbaru (RiauEksis.Com) - Seorang Muslim dibolehkan untuk membalas keburukan orang lain, asalkan sepadan. Jika dipukul satu kali, boleh membalas dengan satu kali pukulan lagi, tidak boleh melampaui. Sebab, jika melampaui, bisa dikategorikan sebagai perbuatan zalim.

Namun demikian, cara merespons keburukan seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah.

Walaupun dibolehkan membalas ke burukan dengan keburukan yang sepadan, seorang Muslim diberi pilihan yang lebih baik, yaitu memaafkan dan membalas dengan kebaikan.

Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah SWT, Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan)Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS asy-Syura [42]: 40).

Memaafkan adalah salah satu indikator ketakwaan (QS Ali Imran [3]: 134) dan orang takwa adalah yang paling mulia di sisi Allah (QS al-Hujurat [49]:13). Oleh karena itu, memaafkan ter masuk salah satu akhlak mulia (akhlak karimah). Siapa pun yang memiliki akhlak ini dan mengimplementasikannya dalam kehidupan pasti akan mendapatkan kemuliaan, baik di sisi Allah maupun di hadapan manusia, dan dapat menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Hal tersebut ditegaskan oleh Nabi SAW, Tidaklah seorang hamba dizalimi dengan satu kezaliman kemudian ia bersabar (memaafkan) kecuali Allah akan menambah kemuliaan kepadanya. (HR at-Tirmidzi).

Membalas keburukan dengan kebaikan merupakan akhlak agung (akhlak azhimah) dan merupakan akhlak para nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman, "Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS al-Qalam [68]: 4). Salah satu akhlak agung Nabi SAW dapat dilihat pada peristiwa Futuh Makkah (pembebasan Kota Makkah). Saat itu, Nabi SAW datang dengan pasukan besar. Penduduk Makkah yang sering menyakitinya merasa ketakutan. Namun, Nabi SAW tidak melakukan balas dendam.

Beliau malah menempatkan orang yang paling memusuhinya, Abu Sofyan, di tempat yang terhormat. Ia dijadikan tempat suaka oleh Nabi SAW bagi penduduk Makkah yang ingin aman. Akhlak agung tersebut pun mampu melunakkan hati Abu Sofyan dan penduduk Makkah sehingga mereka menerima Islam secara sukarela dan memasukinya dengan masif (QS al-Nashr [110]: 1-3).

Menurut Alquran, membalas keburukan dengan kebaikan akan dapat mengubah permusuhan menjadi persaudaraan dan pada gilirannya akan mampu menghadirkan kawan dari sarang lawan. Hal tersebut ditegaskan oleh ayat, Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu)dengan cara yang lebih baik, maka tiba- tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia (QS Fushilat [42]: 34). Wallahu a'lam.***


oleh: H Karman
sumber: republika.co.id






Berita Lainnya :
 
  • Anggota DPRD Hadiri Pelepasan Keberangkatan Jemaah Haji Kab. Bengkalis
  • Wakil Ketua Syaiful Ardi Hadiri Penyerahan Penghargaan WTP dari BPK RI
  • Sempurnakan Draft Ranperda, Pansus BLJ Dialog bersama BPKP Provinsi Riau
  • Fraksi PDI Perjuangan Hadiri Bimtek dalam Rangka Mendalami Tupoksi anggota DPRD
  • Saat Perbaikan, KMP Permata Lestari I Alami Kebakaran
  • HENDRI CH Bangun : PWI Provinsi Riau Tuan Rumah HPN 2025 Diharapkan Lebih Melibatkan Generaai Muda
  • Difitnah Nikah Siri, Penghulu : Saya Dipaksa Mengakui Menikahkan Hamid dengan SKD
  • Polri Ungkap Keberhasilan Amankan World Water Forum ke-10 di Bali
  • Sapa Pengungsi Banjir Bandang Sumbar, Ketum Bhayangkari Hibur Anak-anak Pengungsi
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved