Senin, 31/08/20
 
Komitmen Bupati Wardan Sejahterakan Masyarakat Inhil dengan Memajukan Perkebunan kelapa

Ditma | Advertorial
Rabu, 19/04/2023 - 21:01:34 WIB
Foto:Nopriosandi
TERKAIT:
   
 
PEKANBARU,Riaueksis.com-- Kabupaten Indragiri Hilir dengan ibukotanya Tembilahan terkenal sebagai daerah penghasil kelapa terbesar di Riau bahkan di  Indonesia.

Produk- produk  olahan kelapa dan turunannya seperti minyak goreng, Nata De coco, minuman Hydrococo, santan instant Kara dan lain- lainnya, dengan merk- merk yang sudah sangat akrab ditelinga masyarakat kita karena selalu terpajang mulai dari kedai kecil di desa sampai ke supermarket besar dan terkenal  di ibukota.

Merk produk olahan kelapa ini sudah sangat akrab ditelinga masyarakat indonesia, karena setiap hari selalu muncul iklan nya di TV swasta, tidak terhitung jumlahnya berapa kali tayang dalam 24 jam.

Hal ini menggambarkan  berapa besar hasil kelapa dan berapa besar bisnis dan keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha yang bergerak dibidang pengolahan kelapa.

Tentunya kemampuan ini akan mampu membuat sejahtera masyarakat Inhil.

Namun bila kita berkunjung  dan melihat langsung ke daerah penghasil kelapa terbesar di indonesia ini, saya sedikit kecewa,karena kenyataanya masyRakat Inhil sebagian besar hanya sebagai pekerja atau buruh saja, sedangkan owner  bisnis pabrik pengolahan kelapa yang membuat harum nama Inhil bukanlah masyarakat tempatan atau warga asli Inhil, tapi pabrik pengolahan kelapa itu adalah milik pendatang atau pengusaha dari luar Inhil yang berinvestasi di Inhil.

Dari beberapa hasil  wawancara dengan rombongan wartawan dari PWI Riau yang mengadakan kunjungan untuk penulisan Lomba Karya Tulis Ali Kelana.(lKTJ)
Masyarakat Inhil atau kota tembilahan pada khususnya lebih banyak hanya sebagai pekerja atau buruh di pabrik.

Hanya sedikit masyarakat Inhil yang memiliki kebun kelapa, itupun tidak cukup luas hanya beberapa puluh  pohon dan kebanyakan pohon- pohon kelapa mereka sudah mati karena sudah tua, atau kena serangan hama atau karena seringnya terjadi banjir pasang air laut ( rock).

Diantara masyarakat Inhil yang bekerja sebagai buruh di perkebunan kelapa di tembilahan adalah Pasangan suami istri yang bekerja sebagai buruh harian  pengupas jambul dan tukang congkel kelapa, Ahmad Syahri (44) dan Juliana (29) di Desa Pulau Palas Kecamatan Tembilahan Hulu. 

" Dulu kami punya kebun kelapa empat baris, kira-kira ada 65  pohon, hasilnya lumayan untuk membiayai keluarga. Kami, tapi karena seringnya banjir pasang air laut, pohon kelapa kami itu berangsur mati, " terang Ahmad Syahri  sambil tetap melanjutkan pekerjaannya mengupas jambul kelapa.

 May be an image of 3 people

Demikian juga dengan Idrus (55) seorang pengupas kelapa di Kampung Hidayat Kecamatan Teluk Dalam Kecamatan Kuala Indragiri Inhil Sabtu (18/3/2023) kepada Siberrindo.com mengatakan sudah lama menekuni pekerjaannya walaupun dia juga memiliki kebun kelapa sendiri yang tidak begitu luas.

Dari Penghasilan mengupas kelapa ini, Idrus bisa menghidupi tujuh orang anaknya.
"Yang masih sekolah disini, SMA sama SD, di Kalimantan ada tiga orang pondok, laki-laki dua, perempuan satu," terang Idrus  

Idrus , bisa mengupas 1.500 butir per hari, kalau tapi kadang - kadang  hanya 1.000 butir per hari, dengan upah per butir Rp130. Tergantung kondisi fisiknya.

Dari hasil upah mengupas kelapa inilah Idrus membiayai  keluarganya dan sekolah anak anaknya.

Kasiran (63), pemilik kebun kelapa Sabtu (18/3/2023) di Kampung Hidayat Desa Teluk Dalam Kecamatan Kuala Indragiri mengeluhkab rendahnya harga jual kelapa hasil kebunnya  setelah dikupas dijual dengan harga Rp1.500 per kilogramnya.

"Harga kelapa turun sekarang Rp1.500, dulu wakktu harga bagus  satu kilo  harganya pernah Rp 3200,
Hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok saja " keluh Kasiran.

Bupati Inhil, HM Wardan, telah melakukan berbagai uasaha perbaikan terhadap perkelapaan di wilayahnya  “Semua akan saya lakukan agar petani kelapa di Indragiri Hilir sejahtera, karena saya juga anak petani,” janjinya. 
 
Sejumlah peraturan daerah yang dapat menjamin kedaulatan kelapa memang telah dibuat. Misalnya, Peraturan Daerah (Perda) Tata Niaga Kelapa, Perda Resi Gudang, dan Perda BUMDes untuk menunjang Perda Tata Niaga Kelapa. Pada 2019 disahkan pula perda tentang penetapan pakaian Melayu dan tanjak dari kelapa pada tiap Jumat bagi pegawai.
 
Bupati Wardan menyadari kehidupan penduduk Inhil sangat bergantung pada kelapa. Karena itu, menurut dia, di sini kelapa disebut sebagai “pohon kehidupan”.
 
Betapa tidak, dari akar sampai pucuk daun pohon kelapa semuanya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Daun kelapa, misalnya, untuk atap rumah, bahan kulit ketupat, janur, dan sapu lidi.
Dari buahnya ada air kelapa yang sangat bermanfaat sebagai pengganti ion tubuh. Daging kelapa muda untuk pelepas dahaga. Kelapa tua untuk minyak dan sebagainya. 
 
“Produksi dari buah kelapa ini banyak," ungkap Wardan yang bangga disebut 'bupati kelapa'. Selain santan juga ada minyak kelapa murni (VCO), nata de coco, Kara, Dydor Coco, gula, dan sebagainya.
 
Sedangkan tempurungnya bisa dijadikan karbon, briket, dan keperluan lain. Batangnya untuk bahan bangunan dan perabotan. Sabutnya bisa dijadikan cocofiber (serat sabut kelapa) dan limbahnya sebagai cocopeat (serbuk sabut kelapa). Cocofiber memiliki pasar yang cukup baik di Cina. Sedangkan cocopeat dibutuhkan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk media tanam pembibitan akasia dan eukaliptus.
 
Wardan memiliki impian besar terhadap kelapa. Impian tersebut, ungkapnya, akan diwujudkan dengan membangun museum kelapa, mendirikan politeknik perkebunan kelapa, dan mencanangkan gerakan satu rumah satu produk kelapa, serta agrowisata kelapa. Semuanya bermuara untuk kesejahteraan masyarakat Inhil  dengan tagline “Kelapa Menjulang  Masyarakat Gemilang”.
 
Potensi kelapa memang cukup besar dari Negeri Seribu Parit ini. Namun belum semuanya bisa digarap menjadi bisnis yang menguntungkan ekonomi masyarakat.

Perkebunan kelapa di Inhil merupakan  perkebunan kelapa yang menjadi sentra perkebunan terbesar di Indonesia.

Namun kini perkebunan kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir  mengalami penurunan, dimana luas lahan sekarang sudah berada di bawah 400.000 hektar. Penyebab penurunan luasan tersebut dikarenakan  pengelolaannya yang kurang produktif, banyaknya tanaman yang sudah tua dan rusak yang seharusnya diremajakan, banyaknya petani yang beralih ke komoditas sawit dan ada sebagian perkebunan petani yang masuk dalam kawasan hutan sehingga menjadi kendala dalam pelaksanaan program replanting. 

Sepanjang tahun 2021, Kabupaten Indragiri Hilir mendapatkan alokasi replanting atau peremajaan tanaman kelapa seluas 200 hektar, 100 hektar merupakan program bantuan dari peremajaan tanaman kelapa lewat APBN, dan 100 hektar bersumber dari APBD. Potensi perkebunan untuk komoditi kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir menjadi yang paling tertinggi di Indonesia dengan luas sekitar 400.000 hektar.
 

Sejarah perkelapaan di Indragiri Hilir
 
Pada tahun 1918 Mufti Indragiri Tuan Guru Syekh Abdurrahman Shiddiq, telah memodernisasi kebun kelapa. Bersama keluarga dan muridnya membuat parit-parit untuk mengatur sirkulasi air pasang dan surut air laut. Dengan sistem kanalisasi,
parit yang dikorek berfungsi menyuplai kebutuhan air bagi tanaman kelapa saat kemarau dan tidak terendam saat air pasang atau hujan. Kanal juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengangkut kelapa. Banyaknya hamparan parit membuat Inhil dijuluki Negeri Seribu Parit.

Muhammad Mukri Pahsan bin H Masri, yang merupakan keturunan dari Syekh Abdurahman Siddiq atau dikenal dengan sebutan Tuan Guru Sapat, Sabtu (18/3/2023)  kepada wartawan peserta LKTJ, di Kampung Hidayat Desa Teluk Dalam Kecamatan Kuala Indragiri Inhil mengisahkan, Tuan Guru Sapat dulunya berkebun kelapa di hilir Sapat.

Namun sebelum Tuan Guru Sapat pindah ke Kampung Hidayat tersebut,  kebun kelapa sudah disiapkan terlebih dahulu.
Oleh H Karim. H Karim ini merupakan orang tua dari Syekh Abdurahman Siddiq atau orang tua Tuan Guru Sapat.

H Karim merupakan orang yang kuat, dia juga yang merintis trio tata air untuk kebun kelapa. 
Setelah H Karim wafat, barulah sejumlah kebun dibagi-bagikan kepada anaknya, termasuk Tuan Guru Sapat.

Berbekal ilmu awal dari H Karim, Tuan Guru Sapat terus mengembangkan trio tata air, sehingga kawasan itu sangat ramai dikunjungi.

"Air ni kan kadang pasang, kadang surut, kalau dulu tak ada jalan disini, dia lewat air, pompong, pakai sampan dahulu, penuh sampan di parit ni, berjajar, orang yang datang, yang bermukim disini puluhan banyaknya. Kalau parit ini dibersihin la anak-anak muridnya Abdurahman Siddiq," ulasnya lagi..

Kebun kelapa di Inhil dimulai  sebelum zaman Jepang. Karena H Karim wafat 1939, maka perkebunan kelapa dan sejumlah parit ini sudah dibuat sebelumnya. "Diatas zaman Jepang, diatas datuk meninggal. Datuk meninggal1939," terangnya lagi.

Waktu itu, kelapa di jual oleh H Karim kepada keluarga terdekat terlebih dahulu, lalu dia memberi kesempatan kepada keluarga serta kerabatnya untuk menjual lagi ke berbagai wilayah. Ini menandakan, pemasaran kelapa Inhil waktu itu sudah mulai jauh ke berbagai penjuru dunia.
 
PT Pulau Sambu saat membuka perkebunan kelapa secara modern di Pulau Burung, Sei Guntung, Kecamatan Kateman, Inhil pada1980-an melanjutkan 
Sistem parit atau kanalisasi yang dipelopori Tuan Guru Syekh Abdurrahman Shiddiq.
 
Ahim Ginting, humas PT Pulau Sambu,menjelaskan  perusahaannya telah membuat sentra penampungan langsung kelapa dari masyarakat. Tidak melalui pedagang perantara lagi. Kelapa masyarakat dijadikan bahan baku minyak goreng di kilangnya.
 
Sedangkan kelapa yang tidak dijual ke pabrik masih tetap terserap pasar. Sebagian dibawa ke Pekanbaru, dan kawasan sekitarnya, bahkan juga sampai ke Jakarta dan dikirim ke Malaysia.
 
Anjloknya harga kelapa, menurut Ginting, akibat belum adanya tata niaga kelapa. Kalau dikelapa sawit pemerintah menentukan harga eceran tertinggi (HET) buah sawit. Sedangkan harga kelapa masih tergantung sepenuhnya kepada pasar. 
 
Harga bisa naik kalau ada permintaan pasar yang besar, terutama dari luarnegeri. Namun, Ginting menyayangkan karena kelapa ekspor belum ada bea keluar atau pajak ekspornya, sehingga tidak menjadi sumber pemasukan bagi negara.
 
Karena itu Ginting berharap pihak luarnegeri membangun industri pengolahan kelapa di Riau. Ini akan memberikan nilai tambah baik dari tenaga kerja, pajak, alih teknologi, dan lainnya.
 
Ginting juga menyayangkan karena selama ini kelapa hanya dijadikan sebagai bahan baku minyak goreng. Padahal
banyak industri minyak goreng yang terpaksa tutup karena hanya menghasilkan satu produk itu semata. Padahal, seperti diketahui tipis keuntungan membuat minyak goreng karena biaya produksinya besar.
 
Seharusnya ada diversifikasi produk. Seperti dilakukan PT Pulau Sambu yang memproduksi santan kelapa dan nata de coco dari bahan baku air kelapa. "Itulah yang jadi produk unggulan kami," terang Ginting.
 
Pemkab Inhil sudah melakukan berbagai upaya untuk perkelapaan. Seperti perbaikan tanggul sepanjang 1.000 kilometer untuk melindungi kebun kelapa petani dari genangan air dan intrusi air laut. Solusi lainnya adalah membuat akses jalan. Selama ini kelapa dibawa dengan perahu, sehingga costnya jadi semakin tinggi.
 
Untuk peremajaan pohon kelapa, juga menghadapi kendala. Sebab sebagian kebun kelapa itu masuk ke dalam kawasan hutan. Karena itu Pemkab harus mengajukan izin dulu ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 
 
Selama ini hasil perkebunan kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir hanya untuk memenuhi kebutuhan industri olahan air kelapa untuk dibuat menjadi minuman kemasan berskala nasional dan internasional. Namun masyarakat belum memanfaatkan seutuhnya produk turunan dari kelapa yang dapat membantu menambah nilai ekonomis dari produksi perkebunan kelapa.

Ada beberapa faktor dan kondisi yang membuat sulit mengembangkan potensi perkebunan kelapa ini. Beberapa peneliti dan praktisi pengembangan desa melakukan penelitian terkait beberapa faktor diantaranya, rendahnya kreativitas yang hanya menjual kelapa bulat. Etos kerja petani dalam pengelolaan kelapa, pengembangan kelembagaan khusus yang menangani komoditi kelapa sebagai komoditi unggulan Kabupaten Indragiri Hilir, pengembangan peralatan dan teknologi yang digunakan untuk mengolah produk turunan kelapa, serta kerjasama yang dilakukan pemerintah dengan perusahaan pengolahan kelapa juga masih butuh banyak dorongan agar hasilnya dapat optimal bagi kesejahteraan masyarakat petani kelapa.

Pemerintah Indragiri Hilir melalui Dinas Pariwisata ingin mengembangkan potensi tersebut, tidak hanya sebagai penghasil kelapa terbesar di Indonesia namun juga mengembangkan perkebunan kelapa ini sebagai destinasi wisata kelapa yang juga akan menjadi unggulan, sehingga diharapkan mampu membuka pengembangan daerah Indragiri Hilir semakin maju dan dapat mensejahterakan masyarakat.

Pengembangan wisata dapat dilakukan dengan berbagai hal diantaranya berupa wisata minat khusus dengan belajar pemanenan buah kelapa sebagai salah satu atraksi wisata yang ditawarkan atau wisata edukasi, dengan mengajak lingkungan sekolah dari SD hingga perguruan tinggi untuk belajar menanam dan memahami keunggulan serta keunikan pohon kelapa atau bisa juga mengembangkan teknologi untuk pengolahan dan pengelolaan perkebunan kelapa yang bekerja sama dengan Universitas, menjadi satu bagian atraksi wisata yang bisa ditawarkan kepada wisatawan dan masyarakat.

Namun perencanaan secara rinci dan komprehensif perlu dilakukan (baik secara spasial maupun programatik) untuk melihat prioritas kegiatan yang akan dilakukan, mulai dari aspek pengembangan konsep wisata, pengembangan atraksi dalam wisata, kemudahan dan keamanan aksesibilitas menuju tempat wisata, fasilitas pendukung wisata, serta peningkatan kapasitas dan pengetahuan masyarakat terkait dengan pengelolaan wisata yang akan dikembangkan. Dengan demikian langkah-langkah tepat yang akan dilakukan akan membentuk wisata berbasis potensi lokal dengan mengedepankan pembangunan manusia, ekonomi dan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. (Len)






Berita Lainnya :
 
  • Kapolri Beri Penghargaan Casis Bintara Jari Putus Dibegal Masuk Bintara Polri
  • Kepedulian Polda Riau Meneduhkan Korban Bencana Galodo Sumbar, Kapolres Ucapkan Terima Kasih
  • KLHK Apresiasi Upaya PHR Cegah Konflik Gajah dengan Manusia dan Lestarikan Keanekaragaman Hayati
  • Catatan 2023, PHR Penghasil Migas Nomor 1 Indonesia
  • Pj Gubri Imbau Pihak Sekolah Tangguhkan Studi Tur ke Luar Daerah
  • Polda Riau Kirim 3 Truk Bantuan Sembako Korban Banjir Bandang Sumbar
  • Perkuat Rasa Solidaritas, Pimpinan dan Anggota DPRD Bengkalis Hadiri Halal Bihalal IKMKB
  • Ajang OSN dan FLS2N, Tiga Pelajar SMAN 2 Tapung Wakili Kampar ke Tingkat Provinsi
  • Pansus BPBD Pertajam Pembahasan Ranperda pada Rapat Perdana
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved