Senin, 31/08/20
 
17 Pengungsi Afghanistan Bunuh Diri di Indonesia karena Stress
Pengungsi Afganistan Unjuk Rasa ke Kantor UNHCR Pekanbaru.

Derry | Riau
Senin, 15/08/2022 - 17:00:53 WIB
Ratusan pengungsi Afghanistan kembali berunjukrasa di depan Kantor IOM dan UNHCR di Jalan HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru, Riau Senin (15/8/2022). Mereka minta segera dikirim ke negara ketiga Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, dan Australi
TERKAIT:
   
 
PEKANBARU,Riaueksis.com --Untuk kesekian kalinya ratusan pengungsi Afghanistan di Kota Pekanbaru, Riau kembali berunjukrasa ke Kantor IOM dan UNHCR di Jalan HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru, Senin (15/8/2022).

Massa tetap menyuarakan agar segera dikirim ke negara ketiga yang aman dan menjanjikan yakni Amerika Serikat, Kanada, Selandia Baru, dan Australia.

Pengungsi Afghanistan di depan Kantor IOM dan UNHCR Jalan HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru, Riau, membawa salah satu poster gambar korban yang bunuh diri di Pekanbaru enam bulan lalu karena stress.

Salah seorang juru bicara pengungsi Afghanistan, Gulomi kepada wartawan Detak Indonesia.co.id mengisahkan sudah 17 pengungsi Afghanistan yang bunuh diri di Indonesia karena stress di penampungan dan hidup luntang lantung di negara penampungan ini. Di Riau ada sekitar 800 imigran/pengungsi Afghanistan, di Indonesia ada sekitar 7.000 orang.

"Enam bulan lalu bunuh diri Muhammad Nazir di penampungan Detensi Imigrasi belakang purna MTQ Pekanbaru. Almarhum meninggalkan seoramg isteri dan lima anak," jelas Gulomi kepada wartawan.



Di Afghanistan kata Gulomi, bukan terjadi kerusuhan agama tetapi kerusuhan yang bermotif politik ekonomi karena Afghanistan adalah negara kaya tambang bebukitannya banyak mengandung emas, batubara, dan tambang lainnya. Jadi ini jadi rebutan pihak luar dan menciptakan teror dan pembunuhan di Afghanistan untuk menguasai kekayaan alam itu. Dan Negara tak bisa pula menjaga keamanan dan kenyamanan penduduk Afghanistan. Sekarang Afghanistan dikuasai kelompok Taliban sejak tentara Amerika Serikat mundur dari Afghanistan.

"Suku Hazara yang menganut aliran Syiah di Afghanistan, jelas Gulomi, dibantai bahkan terjadi pembantaian massal (genoside) oleh kelompok perusuh. Rumah ibadah, tempat pendidikan suku Hazara di bom sekali bom bisa mati massal 100 orang. Jadi tidak aman di sebagian besar kota di Afghanistan. Tujuan pembunuhan itu agar warga Afghanistan suku Hazara tidak bisa beribadah, tidak bisa pintar karena menuntut ilmu pengetahuan," demikian jelas Gulomi. **







Berita Lainnya :
 
  • Kapolri Beri Penghargaan Casis Bintara Jari Putus Dibegal Masuk Bintara Polri
  • Kepedulian Polda Riau Meneduhkan Korban Bencana Galodo Sumbar, Kapolres Ucapkan Terima Kasih
  • KLHK Apresiasi Upaya PHR Cegah Konflik Gajah dengan Manusia dan Lestarikan Keanekaragaman Hayati
  • Catatan 2023, PHR Penghasil Migas Nomor 1 Indonesia
  • Pj Gubri Imbau Pihak Sekolah Tangguhkan Studi Tur ke Luar Daerah
  • Polda Riau Kirim 3 Truk Bantuan Sembako Korban Banjir Bandang Sumbar
  • Perkuat Rasa Solidaritas, Pimpinan dan Anggota DPRD Bengkalis Hadiri Halal Bihalal IKMKB
  • Ajang OSN dan FLS2N, Tiga Pelajar SMAN 2 Tapung Wakili Kampar ke Tingkat Provinsi
  • Pansus BPBD Pertajam Pembahasan Ranperda pada Rapat Perdana
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved