Senin, 31/08/20
 
Len
Dr lois dibebaskan mabes polri ,berjanji tidak akan melarikan diri.

| Hukum
Selasa, 13/07/2021 - 13:46:59 WIB
Jakarta,Riau eksis.com - Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi, mengatakan saat menjalani pemeriksaan dokter Lois Owien mengakui kesalahannya atas sejumlah opini mengenai Covid-19. Kemudian Lois juga dipercaya tidak akan melarikan diri, sehingga yang bersangkutan tidak lagi dilakukan penahanan.

"Yang bersangkutan menyanggupi tidak akan melarikan diri. Oleh karena itu saya memutuskan untuk tidak menahan yang bersangkutan, hal ini juga sesuai dengan konsep Polri menuju Presisi yang berkeadilan," ujar Slamet dalam keterangannya, Selasa (13/7).

Menurut Slamet, Lois juga memberikan sejumlah klarifikasi atas pernyataannya selaku dokter atas fenomena pandemi Covid-19. Segala opini terduga yang terkait Covid, diakuinya merupakan opini pribadi yang tidak berlandaskan riset. Ada asumsi yang ia bangun, seperti kematian karena Covid-19 disebabkan interaksi obat yang digunakan dalam penanganan pasien.

"Pokok opini berikutnya, penggunaan alat tes PCR dan swab antigen sebagai alat pendeteksi Covid yang terduga katakan sebagai hal yang tidak relevan, juga merupakan asumsi yang tidak berlandaskan riset," jelas Slamet.

Slamet mengatakan, Lois juga mengakui opini yang dipublikasikan di media sosial, membutuhkan penjelasan medis. Namun, hal itu justru bias karena di media sosial hanyalah debat kusir yang tidak ada ujungnya. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh penyidik, kata Slamet, didapatkan kesimpulan bahwa yang bersangkutan, tidak akan mengulangi perbuatannya dan tidak akan menghilangkan barang bukti.

"Pernyataan terduga selaku orang yang memiliki gelar dan profesi dokter yang tidak memiliki pembenaran secara otoritas kedokteran. Dalam klarifikasi Dokter Lois, ia mengakui bahwa perbuatannya tidak dapat dibenarkan secara kode etik profesi kedokteran," terang Lois.

Selanjutnya berkaitan dengan reproduksi konten oleh terduga merupakan tindakan komunikasi yang dimaksudkan untuk memengaruhi opini publik. Pihak Polri mengedepankan keadilan restoratif agar permasalahan opini seperti ini tidak menjadi perbuatan yang dapat terulang di masyarakat. Kata Slamet, pemenjaraan bukan upaya satu-satunya, melainkan upaya terakhir dalam penegakan hukum, atau diistilahkan ultimum remidium.

"Sehingga, Polri dalam hal ini mengendepankan upaya preventif agar perbuatan seperti ini tidak diikuti oleh pihak lain," ungkap Ketua Satgas Presisi Polri ini.

Selain itu, Slamet juga berharap, upaya mengingatkan dokter ini agar bijak dalam menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi sosial. Apalagi saat ini, Indonesia sedang berupaya menekan angka penyebaran pandemi. Maka menurutnya, pemenjaraan dokter yang beropini diharapkan agar jangan menambah persoalan bangsa.

"Sehingga, Polri dan tenaga kesehatan kita minta fokus tangani Covid dalam masa PPKM Darurat ini. Sebagai informasi tambahan, Polri memberikan catatan bahwa terduga dapat diproses lebih lanjut secara otoritas profesi kedokteran," tutup Slamet.**

Sumber: Republika



comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Sultan Syarif Kasim II menyerahkan mahkota, istana, dan hampir seluruh kekayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura kepada Pemerintah RI. (f: istimewa)
  • Inilah 17 Pedoman PPKM Level IV di Pekanbaru, Mohon Dibaca Baik-baik
  • Meski Turun Hujan, BMKG Ingatkan Tetap Waspada Karhutla
  • 270 Juta Orang Tertipu; Menunggu (Hukuman) Sehari Dua Triliun
  • Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Warga Kembai Lakukan Patroli dan Sosaisasi Karlahut di Kampung Pencing Bekulo
  • Terapkan PPKM, TNI-Polri dan Pihak Kelurahan Disiplinkan Prokes Warga Simpang Belutu
  • Dapat Emas : Indonesia Terbaik di Asia Tenggara
  • Daftar 141 Daerah di RI Terapkan PPKM Level 4 pada 3-9 Agustus, Ini
  • Media Asing Sorot Fans Bulutangkis Indonesia
  •  
     
     
     
     
    Copyright © 2014-2016
    PT. Surya Cahaya Indonesia,
    All Rights Reserved